Selasa, 02 November 2010

cerpen cerpen

Love is Bullshit

Aku tak ingat kapan terakhir aq jatuh cinta.Aku hanya mengingat saat keperihan datang secara melankolis, menyeset-seset dan memberikan sakit yang sulit digambarkan.Aku masih mengingat saat itu dimulai.***Sikapku cuek, aku gak perduli dengan org2 sekitar. Yang mesti dan wajib aq kerjakan itu saja, secukupnya.Lalu muncullah sohib yg baru kukenal, namanya Noni. Dia anak yg lucu n lbh muda setahun dariku. Sedangkan sohib kentalku, Lika, yg lebih tua dua tahun dariku.Kami bekerja pada sebuah perusahaan. Jabatanku lumayan, Aku dan Lika cukup disegani oleh karyawan lain. Dan aku tak terlalu memperhatikan org lain. Nonu sebagai anak baru senang berteman dan mendekati aku dan Lika. Kemana kami hang-out dia selalu mau ikut. Dia org yang ceria dan bergaul dengan karyawan lain.Suatu hari saat pulang kerja, kami bertiga pulang bersama, turun di tangga, dan menuju lantai bawah, pada saat itulah muncul Robi. Dia senyum-senyum sendiri, biasala ramah tamah menyapa. Noni membalasnya sapaanya."Tin, robi tuh lumayan ganteng yah." sahut Noni ketika kami sudah naik ke mobil Lika."hahay, yg benar aja" jawabku sambil melirik Lika yg sedang menyetir, maksudku untuk meminta dukungan."Iya emg dia manis loh."sahut Lika. Aku tersentak, masa sih perasaan Robi biasa2 aja. Tp mungkin selera kami yang beda.Semenjak itu, aq sering memperhatikan Robi, apakah Lika dan Noni yang salah, ataukah aq yang bener2 aneh. Setelah aq perhatikan, bener juga. Dia lumayan manis, ramah, setiap kami pulang kerja selalu berpapasan dan dia menyapa.***Anehnya, tak tau kenapa, semenjak itu Robi mendekatiku, pada awalnya dia curhat tentang bagaimana dia disakiti oleh mantan pacarnya yang pindah ke cowok yang lebih mapan. Dan tak tau kenapa aq juga senang menjadi teman curhatnya. Lalu Lika juga mendukung kedekatan kami."Coba dulu sama dia, Tin. Kayaknya dia baik. Kamu jg uda lama menjomblo, mau sampai kapan."ujar Lika.Aku menganggap ucapan Lika sebagai angin lalu. Lagian aku dan Robi cuma dekat, bukan berarti dia ada feel.Tapi Robi bukan cuma curhat, dia juga sering menceritakan tentang aq. Dia masih ingat bagaimana pertama kali bertemu denganku, ingat dengan baju yang pernah aq pakai, dan tau semua tentang diriku, kebiasaanku. Aku bimbang, pertanda apakah ini? Kenapa dia tau semua tentang aq semenjak bertemu denganku.*** penembakan***hari itu adalah hari jumat, di jam kerja, dia sms ngajak ketemuan, katanya penting, untungnya aq lg gk terlalu sibuk, jadi aq turutin kemauan Robi untuk ketemuan di Balkon, lantai teratas kantor kami.Aku mencari-cari, kemana dia. Dia lalu muncul membawa satu set bunga, lalu berlutut , " Tin, maukah kamu menjadi pacarku"Saat itu pikiranku campur aduk, benarkah ini. Tapi aq masih ragu dan bimbang karena aku belum bener2 cinta sama dia.Untuk itu aq meminta waktu agar berfikir.Hanya kepada Lika aku bercerita." Tin , kalo aq sih setuju2 aja. Tapi semua kembali kepada kamu."Lika mengutarakan pendapatnya. Aku terdiam. Kalo soal sifat, aku suka dengan tingkah lakunya, Robi orangnya sangat baik, dia sopan, dan berbeda dengan cowok-cowok lain yang kukenal. Dia termasuk cowok yang setia. Itula nilai plusnya. Kalo kekurangan, aku sih gak mau terlalu memvonis sesorang, tp urusan jabatan, pada awalnya dia bukan siapa-siapa, karena dia rajin makanya dia bisa mendapat promosi, tp masih dibawah aq. Lalu pendidikannya, aq jg lebih tinggi. Duh..aku pusing amat, karena aku selalu berpikir secara profesional, masa soal perasaan harus memikirkan soal itu. Terlalu idealis, yah daripada aq terjebak cinta, tp dalam perjalanan kami memiliki banyak rintangan, terutama keluarga.Entah kenapa, masih 50-50 akhirnya aku terima, dia melonjak-lonjak bahagia. Tapi aq mengajukan syarat, kami pacaran secara diam-diam dulu di kantor. Aku masih memaksakan egoku, karena malu, jadi aq tak mau kisah cinta ini dipublikasikan.Dia menyetujui, maka dimulaila drama percintaan itu. Hanya Lika yang tau hubungan kami, ditambah teman dekat Robi.Lalu kami menjalani hubungan ini,Drama 1,Dia beberapa kali datang kerumahku, tapi orangtua ku tidak menyukai kehadirannya. Bahkan ayahku terang-terangan menolak. Padahal kami belum menjalani hubungan lebih serius, kenapa mereka menentang, pikirku. Pokoknya keluargaku menginginkan kami putus. Aku tak mengerti dengan jalan pikiran kedua org tuaku, padahal aq belum menceritakan tentang siapa dia. Drama keduaKencan pertama kami pergi nonton, aku cukup syok, ternyata aku yang membayar tiketnya, juga pada saat makan. Emang sih , pada awalnya, karena gengsi aq mengulurkan uang untukmembayar, dan dia oke2 aja. Astaga. Tapi aq masih berusaha berpikir positif.Dan pada kencan2 berikutnya, aq merasakan aneh luar biasa, dia bukan seperti cowok-cowok yg royal, dan bukannya aq matre, tapi lama kelamaan aku berpikir dia memanfaatkanku. Drama ketigaKami bertengkar. Dimulai saat dia mengantar pulang teman kerja, cewek yang lembur, pada saat itu aku minta antar ke mall tp dia tidak bisa menjemput. Aku berpikir dia terlalu baik hati, mengantar pulang cewek lain, hufttt. Saat itu aku benar-benar menunjukkan keegoanku.Akhirnya kami berbaikan. Aku sering membawakan sarapan dan makan siang untuknya. Dia benar-benar cowok yang romantis. Kata-katanya,walaupun lebay tapi membuatku cukup bergetar. Pada saat itu aku berpikir,, tidak ada gunanya lagi bersandiwara di depan teman-teman tentang hubungan kami. Tapi entah kenapa saat itu juga, aku merasakan justru dia yang lebih senang rahasia hubungan ini tetap berjalan. Drama keempatPUTUS.Aku mengucapkannya dengan berat hati. Di awalnya dia tak protes. Itu yg membuatku semakin aneh. Aku mengambil keputusan putus, setelah aku merasakan setelah hubungan ini berjalan, yang aq rasakan justri kesedihan, bukan kebahagiaan. Daripada ini berlarut-larut, jadi inilah hasilnya. ****Ternyata setelah putus, bukannya masalah kami selesai, justru puluhan masalah muncul. Dan terkuaklah, sedikit demi sedikit pertanyaan yang muncul selama ini. Dia selingkuh!!!!!Dan ternyata selama ini aq dibohongin. Teman, Mira sering melihat dia jalan dengan cewek-cewek yang berbeda, inilah yang membuatku semakin sakit. Lalu keluguan yang selama ini dia simpen ternyata...dia bukan cowok seperti itu. Lia, temanku yang satu divisi dengannya, saat di gudang sempat digodanya...OMG.. Aku benar-benar tertipu dengan kulit luar saja.Setelah semua berakhir dan ketahuan belangnya, dia menangis-nangis dan bersujud di kakiku. Memintaku kembali."Tin, kumohon kembalilah, aku bener2 cinta dan sayang kamu...komohon....jgn dengarkan semua cerita2 bohong." isaknya. padahal aq tidak pernah mengatakan apapun kalau aq sudah tau tentang kebohongannya. Tapi pendirianku sudah teguh. Dan aku semakin mantap kalo keputusanku sudah benar. Justru berpacaran dengannya adalah suatu kesalahan.Kata tidak terus keluar dariku.Dia terus menerus meneror untuk kembali kepadaku.Aku benar-benar menyesal telah memberikan ruang hati untuknya. Bukannya cinta yang ada tapi racun ke ruang hati itu ***Beberapa bulan kemudian.Aku cukup syok. Melihat undangan pernikahan itu. Walaupun undangan bukan ditujukan untukku. Tapi ditujukan untuk Lika.Lika baru saja keluar dan duduk disampingku."Aku ingin memberitahu kalo Robi..." dia ragu-ragu"Aku sudah lihat undangannya.." jawabku cepat sambil menyodorkan undangan yg sudah berada di tanganku.Aku berusaha tersenyum, menyembunyikan perasaan ini. SAKIT."Sudahlah, Lika, aku gakpapa, kan kamu sendiri tau kalo aku gak ada perasaan apa-apa sama dia."Lika mengangkat bahu. Dia senang mendengarnya.Untuk apa aku menyesali, aku sungguh tidak menyesal. Tapi yang kurasakan sakit. Sakit yang cukup dalam. Dan aku tak pernah berharap datang dan aku juga tidak diundang. Baru saja sebulan aku meninggalkan pekerjaan yang sudah aku lama geluti dan meninggalkan semua kenangan buruk yang baru dialami.Ternyata begitu cepat baginya, bagi Robi.Aku sakit, bukan karena aku mencintainya, tapi karena luka yang dia berikan terlalu dalam.MOHON DOA RESTU, ROBI & NONI

BUKU HARIAN DAN PENA KEMATIAN
Lanjuuut……..:D Seakan sedikit membuka jawaban atas pertanyaan dan mimpiku,,ku pikir hal itu benar-benar akan terjadi. Seperti yang ada dalam mimpiku,,saat sosok itu nyaris memberikan sesuatu padaku,,dan pagi harinya datang paket yang tak terduga. Persis,,nyaris seperti mimpiku. ‘Mungkinkah ini memang sebuah pertanda kalauu…….’ Hasssh…tak ku lanjutkan kata-kataku. Aku tak ingin terjadi hal buruk kepada tomy,,sahabatku.Karena merasa tidak tenang akan nasib sahabatku,,malam harinya aku nekat pergi ke perpustakaan tua itu untuk mencari informasi tentang keanehan-keanehan yang terjadi akhir-akhir ini. Sebenarnya aku sedikit takut dan ragu karena saat itu kotaku sedang mendapat giliran pemadaman listrik bergilir. Jujur,,aku takut dengan keadaan gelap. Dengan berbekal lampu senter seadanya,,aku tetap nekat biarpun sebenarnya perpustakaan sedang ditutup karena akan diadakan beberapa perbaikan. Tapi aku masih punya jalan masuk,,yaitu lewat pintu belakang yang tak pernah terkunci. Aku sering lewat pintu itu saat penjaga perpustakaan sedang tak berada di tempat.Saat masuk lewat pintu belakang,,aku merasakan hal yang sedikit aneh.Bagian belakang perpustakaan terasa dingin dan pengap tak seperti biasa. Angin berhembus sangat kencang hingga dedaunan kering yang tadinya berserakan di halaman belakang masuk ke dalam dan membanting pintu. Spontan aku berlari menuju pintu yang terbanting dan mencoba membuka kembali pintu itu. Ternyata pintu itu telah terkunci dari luar. “siall….!!!”,kataku. Aku tetap berusaha membukanya. Angin terasa semakin kencang,padahal sudah jelas-jelas pintu tertutup dan terkunci. Entah dari mana datangnya angin ini. Aku makin panik…aku menangis… ku gedor-gedor pintu itu sambil bertriak-triak,,berharap akan ada seseorang yang mendengar dan mengeluarkan aku dari tempat ini. Telah cukup lama aku melakukannya. Tenagaku telah terkuras habis…Aku lemas dan terduduk pasrah di salah satu sudut ruangan yang berada di bagian belakang perpustakaan itu.Tak lama kemudian,,ruang baca utama yang berada di tengah-tengah perpustakaan nampak terang. Pikirku,,masih ada penjaga di dalam. Aku berdiri. Dengan perlahan aku mulai berjalan pelan menuju ruangan itu. Dari jarak yang tak terlalu jauh,,tepatnya dari celah-celah salah satu rak buku besar nampak seorang anak perempuan sedang duduk dan menghadapi sebuah buku dengan tangan kanannya memegang pena. Ia tampak sedang menulis sesuatu. Anak itu terlihat sama dengan orang yang mencabik-cabik isi perut tiga orang dalam mimpiku. Saat aku tersadar,,ternyata di depannya terdapat sebuah peti kecil yang juga tak asing di mataku. Aku semakin yakin kalau dia adalah anak yang namanya terukir di pena itu. Yaa..aku ingat namanya “Sarah Angel”,,sang pemusnah yang telah melenyapkan sahabat-sahabatnya,,juga sahabat-sahabatku.Tak sengaja tanganku menyenggol salah satu buku hingga terjatuh. Karena kaget,,akupun berteriak dan terpenjat hingga menarik perhatian sosok disana. Dia menujukan perhaitannya ke rak buku tempat persembunyianku. Kali ini berbeda. Pandangannya terlihat memelas. Karena penasaran dengan apa yang terjadi dengannya,,akupun menghampirinya. Aku duduk di sampingnya,,sejenak menatapnya sambil meyakinkan diri kalau dia tak berbahaya dan takkan menyakitiku. Dia menoleh ke arahku tanpa mengucap sepatah katapun. Tampak dia tersenyum. Di perlihatkannya padaku apa yang baru saja di tulisnya. Sedikit ragu,,akupun mulai membacanya. “Yogjakarta,7 November 1839Dear diary…Puas rasanya bisa mempersatukan sahabat-sahabatku di satu tempat yang sama….tempat yang tak akan mungkin orang lain ketahui. Selamanya mereka akan tetap di situ untuk menemaniku dan menjadi sahabatku. Mama…hmm.. mama mereka pasti akan mempertanyakan keadaan anak-anak kesayangan mereka padaku. Akupun sudah mempunyai jawaban jika mama mereka telfon dan bertanya tentang keadaan anaknya. ‘dia sudah tidur tante. Tidak mau saya bangunkan. Anak tante masih ingin menginap disini selama beberapa minggu’ …Aku tak menyesal telah membawa mereka pergi untuk selamanya. Setidaknya aku masih menyimpan jasat mereka. Jika ku rasakan penyakitku menjajah tubuhku,,aku akan berada di antara jasat mereka untuk mati dan tetap bersama mereka…” Setelah aku membaca tulisan itu dan sejenak terdiam,,tiba-tiba dia tertawa. Tawa yang sangat keras,,nyaring,,hingga membuat bulu kuduku berdiri. Ku tutup mata dan telingaku. Aku berpikir,,,mungkinkah sekarang aku tidak berada pada zamanku…?? Ku rasa aku baru saja masuk ke masa lalu. Di jamanku,,sekarang adalah tahun 2009,,tapi kenapa yang tertulis adalah tahun 1839…?? Berarti waktu mundur 170 tahun. Logika tak selalu searah dengan kenyataan. Saat ku lihat kalender di hand phoneku,,benar….saat itu adalah tahun 1839.Tak lama iapun menghentikan tawanya,,merebut buku hariannya dari tanganku dan memasukkannya bersama pena itu ke dalam peti. Kemudian ia berdiri,,beranjak dari tempat duduknya,,berlari dan menyelipkan peti itu ke antara susunan buku,,lalu menghilang. Ruangan itu kembali gelap,,dingin,,dan senyap.Sejenak aku terdiam di tempat itu,,otakku masih berusaha mengutak-atik kejadian ini dengan logika. Tapi benar,,kejadian semacam ini tidak akan bisa di pecahkan menggunakan logika.“ahh..ya sudahlah,,..mungkin tadi Cuma halusinasiku saja. Lagian gag mungkin juga kalo ada yang kayak begituan…” gumamku mencoba menyangkal apa yang baru saja terjadi.Kembali ke tujuan awalku kesini,,yaitu mencari informasi tentang apa yang selama ini terjadi padaku dan sahabat-sahabatku. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku dan mulai menyusuri satu persatu rak buku untuk mencari apapun yang bisa ku temukan dengan bantuan penerangan senter kecil. Di dalam laci rak 13,,aku menemukan sebuah amplop usang. Saat membukanya,,aku menemukan beberapa lembar foto. Yaa…foto hitam-putih usang seorang anak lelaki. Foto itu tak lagi nampak utuh. Beberapa bagian telah sobek dan mengelupas. Di bagian belakang salah satu foto terdapat tulisan dengan huruf jawa,,yang aku tak mengerti apa maksudnya.Merasa ada seseorang yang datang aku buru-buru keluar dan pulang dengan membawa apa yang baru saja ku temukan. Sesamapi di rumah kembali ku lihat kalender di hand phoneku,,ternyata aku sudah kembali ke jamanku. Entah kapan dan dimana aku memasuki gerbang yang menuju ke masa lampau itu.Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa,,matahari sudah memancarkan sinarnya. Tak sempat mataku terpejam. Aku sudah harus kembali bersekolah. Ku masukkan amplop yang berisi foto-foto itu ke dalam tasku. Sebenarnya hari ini tak ada semangat untuk bersekolah. Tapi,,,ya sudahlah…. Sedikit berbeda,,hari ini ada seorang siswa baru di kelasku. Namanya Kevin. Dia pindahan dari salah satu SMA di jawa timur. Bu Leni,, wali kelasku meminta aku menemaninya untuk lebih mengenali sekolah kami. Wali kelasku meminta Tomi untuk pindah tempat duduk dan mengijinkan Kevin duduk di bangku sebelahku.Kevin terlihat gugup di sebelahku. Kami berkenalan.“hai kevin,,aku Vira”,kataku sambil menjulurkan tangan,,mengajak berjabat tangan.“aku Kevin”,jawabnya datar. Tangannya terasa dingin dan bergetar saat berjabat tangan denganku. Dia terlihat ketakutan seperti melihat sesuatu yang tak terlihat olehku. Entah apa yang ia lihat.“Kevin,,kenapa kamu…….? Ada yang salah sama aku……….? Atau kamu sakit….?”,tanyaku dengan mengerutkan jidat.“eeemm…gag papa kok….”,jawabnya dengan gugup,,tak berani menatap ke arahku. Hmm….ku fikir dia cuma belum terbiasa denganku. Semua orang pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri terutama dengan lingkungan barunya. Ku rasa itu wajar. Saat jam istirahat aku mengajaknya ke perpustakaan sekolah. Aku menceritakan beberapa hal tentang sekolahku yang juga sekolah barunya di Jogja,,sedangkan Kevin hanya diam dan mendengarkan. Sepertinya Kevin memang agak susah untuk bergaul. Tapi aku tetap ingin menjadikannya temanku. Agar lebih akrab aku memberikan nomor handphoneku padanya.Saat pulang sekolah aku tak melihat Kevin. Aku menunggunya di pintu gerbang,,tapi ia tak kunjung keluar. Mungkin dia sudah pulang duluan. Tak lama,,Tomi menghampiriku. Dia mengajakku pergi ke perpustakaan tua itu. Saat ia menyebut kata ‘Perpustakaan Tua’,,kembali aku teringat dengan kejadian aneh yang bikin aku gag tidur semalaman. Karena masih belum puas dengan petualanganku semalam akupun meng-iyakan ajakan Tomi. Perpustakaan masih diperbaiki. Di bawah pohon halaman depan perpustakaan aku menceritakan kejadian aneh yang ku alami pada Tomi. Dari raut mukanya sepertinya dia gag percaya sama aku. Tapi aku berusaha meyakinkan dia kalo aku tuh gag bohong. Akupun mengeluarkan apa yang ku dapat semalam dari dalam tas. Tomi meraih dan memendang foto-foto itu. “iya…kamu benar…aku percaya sama kamu”,kata tomi.“eh…si Kevin orange kok agak aneh gitu yaa…pendiem banget orange…”,kataku.“loh…kok malah jadi ngomongin Kevin sih…..?”,sahut Tomi dengan nada yang agak kesal.Sepertinya Tomi tidak suka aku berteman dengan Kevin. Entah apa alasannya. Dari pada Tomi marah,,pembahasan tentang Kevin ku hentikan. Kamipun pulang ke rumah masing-masing.Malam harinya datang sms dari Kevin. Kamipun saling berkirim sms.Kevin: vira,, maaf yaa…soal kejadian tadi… aku cuma belum terbiasa, maaf yaa…Vira: ohh…iyaa… gpp kok… oh iya,,tadi kamu kok kayak ketakutan gitu kenapa…? Ada yang salah sama aku….?Kevin: hmm…gag ada yang salah sama kamu kok…J aku tadi di lihatin terus sama makhluk yang selalu berdiri di samping kamu. Aku takut. Sepertinya dia gag suka sama aku.Vira: maksud kamu…? Kayak.e di samping aku gag ada orang deh… ahh…kamu jangan nakutin aku gitu donk…Kevin: bener kok… aku gag boong… hmm…kamu mau dengerin cerita aku…?Vira: oh..boleh…Kevin: tapi kamu janji dulu…aku pengen kamu tetep jadi temen aku kalo aku udah cerita… mungkin kamu bakal nganggep aku idiot n’ aneh juga sama kayak temenku yang lain…Vira: enggak kok…aku tetep mau jadi temen kamu… cerita aja…Kevin: hmm…ceritanya gini vir…dulu pas aku masih kecil,,aku tuh tumbuh sama kayak anak-anak lainnya… bedanya,,di antara temen-temen sebayaku,, aku bisa lihat n’ berkomunikasi ama sosok yang gag bisa mereka lihat. Tapi aku cuma berani komunikasi sama roh putih aja….roh hitam aku gag berani. Kata psikiater,, aku tuh anak yang special. Anak indigo. Makanya aku bisa lihat mereka. Nah..makhluk yang suka ngikutin kamu itu roh hitam. Dia bisa celakain orang. Makanya aku gag berani.Vira: hahh……? Yang bener kamu…..? terus aku gimana nih….?Kevin: dia gag bakal ngapa-ngapain kamu,,tapi dia bisa celakain sahabat n’ temen kamu. Aku bisa bantuin kok…..Vira: ohh….yaudah…aku minta pengawasan sama kamu yaa….soale aku takut..Kevin: oke deh…aku bakal berusaha minta dia baik-baik biar gag bikin ulah…Vira: bener lho iaa… aku percaya sama kamu biarpun baru sehari kita kenal. Eh…udah malem nih… aku tidur dulu yaa… good night Kevin…Kevin: oke…good night vira.. Perbincangan via sms pun berakhir. Sebenarnya aku gag bisa tidur,, bayangin kayak apa makhluk yang ada di sampingku sekarang. Benar-benar sampai matahari muncul,,aku tetap tak tidur. Genap 48 jam aku gag tidur. Rasanya lelah,,pengen tidur tapi ada semacam ketakutan yang membayang-bayangi. hmm...........pengen tau apa yuang selanjutnya terjadi......?jangan lewatin part 5-nya....^^nih...kalo mau bertemen sama aku,(rifa),,add aja fb.q d ri.fa29@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar