Sabtu, 13 November 2010

geologi

Laporan aktivitas G. Merapi tanggal 10 November 2010 pukul 00:00 sampai dengan pukul 24:00 WIB.
Thursday, 11 November 2010 07:52 administrator


Laporan aktivitas G. Merapi tanggal 10 November 2010 pukul 00:00 sampai dengan pukul 24:00 WIB.
I. Hasil Pemantauan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pukul 00:00-24:00 WIB erupsi masih berlangsung dengan intensitas yang menurun.

Berikut disajikan rangkuman hasil pemantauan terkini, meliputi data pemantuan secara instrumental dan visual.
1. Kegempaan

Berdasarkan hasil pemantauan kegempaan diperoleh jumlah kegempaan sebagai berikut:

Jenis Gempa


8 Nov 2010


9 Nov 2010


10 Nov 2010

00-24 WIB


00-24 WIB


00-24 WIB

Vulkanik


13


7


5

MP


-


-


-

LF


-


4


-

Tremor


Beruntun


Beruntun


Beruntun

Guguran


Beruntun


35


9

AP (Awanpanas)


7


2


1

Tektonik


-


2


-
2. Visual

Hasil pemantauan visual, asap setinggi 800 m dari puncak G. Merapi teramati mulai dari dini hari hingga malam ini. Kolom asap setinggi 1,5 km berwarna putih kecoklatan terjadi pada pukul 10:00 WIB. Terjadi hujan abu lebat di Sawangan, Talun, Muntilan, dan Krinjing yang berakibat jarak pandang hanya 5 m, sedangkan di Ketep,mala mini hujan abu ringan pada pukul 20:22 WIB. Suara gemuruh terdengar dengan intensitas lemah-sedang sepanjang hari ini. Endapan awanpanas terlihat di K. Gendol dengan jarak 3,5 km dari puncak G. Merapi.

Lava pijar terlihat dari CCTV yang dipasang di Deles dengan asap condong ke Barat Laut pada pukul 18:52 WIB, guguran lava pijar juga teramati ke arah K. Gendol dengan jarak luncur 200m pada pukul 20:06 WIB. Sinar api terlihat dari CCTV yang dipasang di Museum G. Merapi pada pukul 19:30 WIB.
II. Awas Lahar

Secara umum, endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak G. Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut meliputi, K. Woro, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu. Lahar di K. Boyong telah terendapkan di Dusun Kandangan Desa Purwobinangun, Kab, Sleman berjarak 16 km dari puncak G. Merapi. Lahar juga dijumpai di alur K. Batang yang berjarak 10 km dari puncak G. Merapi.
III. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 10 November 2010 dari pukul 00:00 WIB sampai dengan pukul 24:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi masih tinggi. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya G Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar.

IV. Rekomendasi

Sehubungan masih tingginya aktivitas vulkanik G. Merapi dan status masih ditetapkan pada level Awas, maka direkomendasikan sebagai berikut:

1. Agar dilakukan penyelidikan abu gunungapi yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Lapangan Udara Internasional Adisucipto di Yogyakarta.
2. Tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.
3. Segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.
4. Masyarakat di sekitar G. Merapi agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten setempat dalam upaya penyelamatan diri dari ancaman bahaya erupsi G. Merapi.
5. Untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kawasan landaan awanpanas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat.
6. Masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas G. Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geol

TAGANA DISKUSI PUBLIK, RUMUSKAN POLA PENANGGULANGAN BENCANA

TAGANA Diskusi Publik, Rumuskan Pola Penanggulangan Bencana
Sumbawa Besar, Gaung NTB
Penanganan bencana alam maupun bencana social yang terjadi di wilayah Kabupaten Sumbawa, kerap dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri, tanpa adanya koordinasi antara satu dengan lainnya. Kondisi ini menyebabkan penanganan bencana menjadi tidak maksimal bahkan justru menimbulkan persoalan.

Untuk menyatukan kesepahaman bersama dan merumuskan pola strategis penanggulangan bencana, Forum Komunikasi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kabupaten Sumbawa berinisiatif menggelar diskusi publik dan simulasi penanggulangan bencana. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, 23—24 Januari 2010 di Aula Kantor Lurah Brang Biji ini, dihadiri sedikitnya 200 peserta yang berasal dari dinas/instansi, Lurah, ketua RT, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM, akademisi, dan warga yang tinggal di pesisir pantai dan daerah aliran sungai (DAS).

Dalam laporannya, Koordinator TAGANA, Lukman Hakim menyatakan bahwa kondisi geografis Kabupaten Sumbawa yang merupakan pegunungan dan sungai, menjadikan daerah ini rawan bencana. Hasil pemetaan atau mitigasi bencana yang dilakukan TAGANA menyebutkan teklah terjadi sejumlah bencana di daerah ini di antaranya banjir bandang pada Tahun 2001 dan 2005, tanah longsor dan gempa bumi bahkan Tsunami di Lunyuk Tahun 1974. Berangkat dari kondisi tersebut, TAGANA menggelar diskusi public dan simulasi penanggulangan bencana.
Tujuan dari kegiatan ini paparnya, untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan wadah peningkatan sumber daya anggota TAGANA dalam rangka menjalankan tugas sebagai taruna siaga bencana. Kemudian, meningkatkan kesiapsiagaan TAGANA dalam menghadapi segala bentuk bencana yang akan terjadi, di samping meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota dalam menjalankan tugas kewajiban sebagai ujung tombak Depsos RI untuk menanggulangi bencana. Tujuan lain dari kegiatan ini sambungnya, merumuskan pola strategis penanggulangan bencana di Kabupaten Sumbawa.

Sekda Sumbawa diwakili Kepala Kesbanglinmas, Drs Arief M.Si, saat membuka secara resmi kegiatan ini menyatakan bahwa pemerintah daerah memberikan apresiasi yang tinggi kepada FK TAGANA atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Ini kegiatan positif dan harus didukung,” ucapnya.

Dikatakan Arief, terjadinya bencana alam maupun social akan berdampak jatuhnya korban, kerusakan harta benda dan lainnya.

Dalam menanganinya, sebut Arief, ada tiga tahapan yang harus dilakukan yakni pada pra, saat dan pasca bencana. Namun Arief tidak menampik kalau penanganan bencana yang dilakukan selama ini bergerak secara parsial, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Karena itu perlu adanya koordinasi dan sinergisitas semua pihak untuk secara bersama mengatasi segala persoalan bencana. “Kami yakin dari kegiatan ini akan lahir rumusan bagaimana pola strategis penanggulangan bencana di daerah ini,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Disos Sumbawa, Drs H Masarang Syam salah satu narasumber, mengatakan bahwa bantuan yang disalurkan Disos kepada korban bencana bersifat tanggap darurat. Pihaknya harus memastikan bahwa bantuan itu tersalur dengan baik, tepat waktu dan tepat sasaran. Ia mengakui, sebelum adanya TAGANA, penyaluran bantuan tidak cepat dan kerap tidak tepat sehingga ada kesan kurang puas dari korban bencana. “Alhamdulillah dengan peran TAGANA sebagai mitra Dinas Sosial dan lini terdepan dalam penanggulangan bencana, penyaluran bantuan menjadi cepat dan tepat serta tanpa birokrasi yang berbelit-belit,” akunya.

Sementara itu Kapten I Wayan Saledra—perwakilan Kodim 1607 Sumbawa dalam pemaparannya, menyatakan bahwa TNI ikut berperan dalam penanggulangan bencana. Peran ini merupakan program TNI melalui operasi militer selain perang, di samping penanganan terorisme dan illegal logging.

Di tingkat kecamatan, diakui Saledra, TNI membentuk tim yang bertugas pada pra, saat dan pasca bencana. Untuk Pra memberikan pemahaman dan wawasan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sehingga bisa dinikmati oleh anak cucu.

Saat bencana terjadi, TNI katanya, membantu mengevakuasi para korban dan membangun Posko Darurat. Kemudian Pasca bencana, melakukan rehabilitasi terhadap dampak yang ditimbulkan bencana.

Sementara itu Kepala BMKG Sumbawa, Dra Catur Winarti menyatakan bahwa secara umum wilayah NTB khususnya Sumbawa berpotensi bencana baik akibat prilaku cuaca maupun pergempaan. Untuk prilaku cuaca, sebut Catur, hingga Maret diperkirakan masih terjadi hujan lebat, angin kencang dan gelombang pasang.

Potensi gempa juga sangat mungkin, sebab Sumbawa bagian utara terdapat patahan punggung belahan bumi dan di bagian selatan terjadi pertemuan lempeng dengan pergerakan yang aktif sehingga berpotensi terjadinya gempa.

Simulasi Dialihkan

Sementara itu simulasi penanggulangan bencana yang sedianya dilaksanakan FK TAGANA Sumbawa di Sungai Brang Biji, Minggu pagi, dialihkan ke Dusun Kauman Desa Labuan dan Dusun Buen Pandan Desa Karang Dima.

Pasalnya, dua dusun tersebut dilanda banjir sejak Sabtu malam. Seluruh personil TAGANA langsung memberikan penanganan saat bencana dengan membangun tenda darurat, evakuasi korban dan pendataan. Kemudian melakukan penanganan pasca bencana dengan menyalurkan bantuan dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan berkelanjutan. “Simulasi itu telah kami praktekkan pada kejadian yang sesungguhnya,” demikian Lukman Hakim—Koorditor FK TAGANA Sumbawa.

Pendidikan Siaga Bencana
Pendidikan Siaga Bencana (PSB)

Kegiatan pengurangan risiko bencana sebagaimana dimandatkan oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan. Ditegaskan pula dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Karena setiap orang harus mengambil peran dalam kegiatan pengurangan risiko bencana maka sekolah dan komunitas di dalamnya juga harus memulai mengenalkan materi-materi tentang kebencanaan sebagai bagian dari aktifitas pendidikan keseharian.

Usaha meningkatkan kesadaran adanya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, di dunia pendidikan harus dilaksakanakan baik pada taraf penentu kebijakan maupun pelaksana pendidikan di pusat dan daerah. Dengan harapan pada seluruh tingkatan memiliki pemahaman yang sama akan perlunya pendidikan kesiapsiagaan bencana tersebut.

Tujuan Pendidikan Siaga Bencana

Tujuan Pendidikan Siaga Bencana antara lain:

1. Memberikan bekal pengetahuan kepada peserta didik tentang adanya risiko bencana yang ada di lingkungannya, berbagai macam jenis bencana, dan cara-cara mengantisipasi/mengurangi risiko yang ditimbulkannya.
2. Memberikan keterampilan agar peserta didik mampu berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana baik pada diri sendiri dan lingkungannya
3. Memberikan bekal sikap mental yang positif tentang potensi bencana dan risiko yang mungkin ditimbulkan.
4. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang bencana di Indonesia kepada siswa sejak dini.
5. Memberikan pemahaman kepada guru tentang bencana, dampak bencana, penyelamatan diri bila terjadi bencana.
6. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan dan melakukan pendidikan bencana kepada siswa.
7. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tentang bencana.

Pendidikan siaga bencana dapat dilaksanakan melalui berbagai jenis pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal. Pendidikan siaga bencana secara formal dapat dilaksanakan secara terintegrasi ke dalam muatan kurikuler yang telah ada, atau menjadi mata pelajaran sendiri yaitu muatan lokal. Penyelenggaraan pendidikan disesuaikan dengan dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah maupun daerah.Pelaksanaannya dapat bermitra dengan berbagai unit atau para pihak terkait sehingga tujuan dari pendidikan ini dapat tercapai secara optimal dalam rangka menyiapkan generasi muda yang tangguh, cerdas secara akademi dan emosi, serta berperan aktif pada masyarakat lokal dan global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar