Selasa, 02 November 2010

surat Amphibi

Surat Amphibi
Surat seorang Amphibi di awal metamorfosisnya

(Saudara-saudaraku TDB…
Ketika Anda berniat untuk melompat menjadi TDA, bersiaplah untuk mengakrabi berbagai tantangan. Salah satu tantangan itu biasanya berasal dari orang yang paling dekat dengan Anda, yaitu pasangan (istri/suami) Anda sendiri. Mengapa...?. Karena dialah yang pertama akan menerima segala dampak yang muncul akibat keputusan Anda itu.
Sebagai pengalaman pribadi, untuk meneguhkan keyakinan Istri, berikut ini saya menulis surat padanya ketika awal-awal menjadi TDA...
Semoga bermanfaat...)

Istriku terkasih…
Maafkan Abi atas kekacaubalauan pikiran dan keadaan akhir-akhir ini…
Abi menyadari bahwa untuk kesekiankalinya lagi-lagi engkau jadi korban pertama keputusan-keputusan Abi.
Lagi-lagi Abi mohon pengertian dan permakluman Umi.
Untuk kesekian kalinya, Abi mohon diberi kesempatan
Untuk mencoba merubah keadaan yang bisa dikendalikan
Abi ingin mengoptimalkan kesempatan yang diberikan Allah
Dengan mengandalkan segala anugrah yang diberikan Allah pada diri Abi
Ijinkan Abi untuk memberi referensi yang berbeda bagi anak-anak kita
Agar mereka tumbuh dan berkembang dengan kesadaran keluasan anugerah Allah, kesadaran untuk berani mengambil risiko, kesadaran untuk berani mengambil keputusan dengan berfihak pada diri sendiri, kesadaran untuk berani mencoba, kesadaran untuk berani menghadapi ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpastian.
Ijinkan Abi untuk menciptakan dunia kita sendiri, sekemampuan kita, sebesar harapan kita.
Tak ada janji yang dapat Abi berikan
Hanya saja, pengalaman-pengalaman kita selama ini telah membuktikan bahwa selama kita berani mengambil keputusan, selalu saja kita dapati hasil yang berbeda, hasil yang lebih baik. Meski selama menjalaninya kita harus bersusah payah, berkeluh kesah, melelahkan, menyita perhatian dan memerlukan pengorbanan.
Begitu banyak lembar-lembar kehidupan kita terisi dengan kesulitan, kesedihan, penderitaan dan kekurangan.
Tapi kita berhasil melaluinya, kemudian menjadikan semuanya sebagai kenangan manis sejarah kehidupan kita.

Istriku terkasih…
Abi sadar benar bahwa perjuangan ini begitu berat dan mempertaruhkan segala daya tahan Abi,
Namun keberadaanmu, sungguh jadi bagian besar dari keberanian Abi,
Daya dukungmu adalah tameng Abi melawan segala ketakutan dan kekhawatiran.

Istriku…
Hidup ini terlalu pendek untuk disia-siakan
Ijinkan Abi untuk mengisinya dengan hal-hal yang lebih baik, lebih besar dan lebih optimal.
Ijinkan Abi merangkai mimpi-mimpi dan harapan
Dan ijinkan Abi tuk menggapainya…


Jagorawi, 18 Pebruari 2006



08:55 Posted in Artikel Bisnis | Permalink | Comments (0) | Email this
02/24/2006
Berbisnis dengan Cinta

Kamis, 19 Januari 06 - oleh : admin

Cinta Sang Nabi

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan
terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan
dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada dibalik
sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia bicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan
mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang
memporak-porakan petamanan
……………

(Kahril Gibran)

Cinta. Satu kata yang begitu bermakna. Cinta membuat orang bodoh menjadi pintar, orang lemah menjadi kuat, orang pelit menjadi dermawan. Setiap makhluk hidup membutuhkan cinta. Kehidupan membutuhkan cinta. Semua yang ada di bumi ini membutuhkan cinta. Ada satu lirik lagu marawis yang kalau tidak salah syairnya begini...,”Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga, aduhai begitulah kata para pujangga, tanpa sedap tanpa bunga.” Tidak dapat dibayangkan bila dunia tanpa cinta. Hidup akan terasa hampa, hambar, tidak bersemangat, tidak bergairah. Kalau diibaratkan masakan tidak ada rasanya; tidak asin, tidak manis, tidak pedas, tidak asam, yah tawar, tidak nikmat dimakan.
Ada berbagai macam cinta yaitu cinta pada Allah SWT, cinta pada Rasul, cinta pada malaikat cinta pada orang tua, cinta pada anak dan istri, cinta pada lawan jenis, dsb. Pernahkah terlintas pada pikiran kita untuk menggunakan kekuatan cinta dalam bisnis? Tertarik salah satu bab dalam buku Berbisnis dengan Hati hasil duet Aa’ Gym dan Hermawan Kartajaya yang berjudul ‘Berbisnis dengan cinta’, saya ingin menggali lebih dalam rahasia The power of love dalam berbisnis.
Ingatkah saat anda jatuh cinta? Merasakan letupan kegairahan dalam setiap tarikan nafas. Keindahan hidup bagai surga dunia. Bagaimana dengan cinta pertama? Kata orang cinta pertama itu murni dan polos. Tidak berlandaskan apapun Cinta membuat orang menjadi tulus. Cinta menuntut pengorbanan. Melakukan apapun untuk pujaan hati tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang diberikan. Bak kata penyair…,”Hujan badai akan kulewati hanya untuk dirimu.” Jadilah pecinta dalam berbisnis, niscaya hambatan-hambatan tidak terasa berat dihadapi, ketakutan akan sirna, dan langkah-langkah ke depan akan terasa ringan. Kekuatan kita akan berlipat ganda dalam mencapai kesuksesan.
Bisnis mempunyai resiko, itu sudah pasti. Tapi ada hal dalam bisnis yang terkadang dilupakan, yaitu bahwa bisnis merupakan permainan. Pahami aturan-aturan mainnya, maka kita dapat meminimalkan resiko dan memenangkan permainan. Hermawan Kartajaya mengatakan pemenang permainan bisnis adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan-aturan permainan secara baik. Bos Primagama, Purdie Chandra mempopulerkan jurus jitu dalam berbisnis dengan konsep BODOL, BOTOL, BOBOL. Ia tahu betul aturan-aturan main dalam bisnis yang terkadang dibilang nyeleneh, dan ia sukses. Hanya tidak ada yang dapat mengukur seberapa besar rasa cinta yang dicurahkan oleh Purdie dalam bisnis kecuali oleh Purdie sendiri dan orang-orang sekitarnya.
Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!, dalam buku Love is The Killer App, mengemukakan apa yang disebut dengan ‘Lovecat’. ‘Lovecat’ adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Seorang ‘Lovecat’ akan terus menambah pengetahuannya (knowledge), mengembangkan relasi dengan semua orang (network) , menunjukkan rasa empati dan tidak segan untuk membantu jika diperlukan (compassion).
Cinta bagai tanaman yang harus dipelihara dan dirawat, bila tidak maka akan mati dan layu. Kadang kita melihat atau mendengar pernikahan yang bak dongeng, pangeran tampan berkuda putih menikah dengan putri yang cantik jelita tapi ternyata hanya seumur jagung karena cinta yang ada diantara mereka telah hilang. Dalam berbisnis, menumbuhkan cinta itu perlu, merawat cinta itu penting. Steven Covey dalam buku Seven Habits of Effective People, mengemukakan bahwa.orang yang proaktif membuat cinta sebagai kata kerja. Cintai. Sayangi. Kasihi. Hormati. Cinta itu adalah segala sesuatu yang anda lakukan; pengorbanan yang anda buat, pemberian diri anda, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Marilah belajar untuk mencintai pelanggan, mencintai pesaing, mencintai bawahan, mencintai produk. mencintai profesi kita sebagai pengusaha.
Bagaimana bila kita sudah menggunakan kekuatan cinta dengan segenap daya dan upaya ternyata bisnis tidak memberikan hasil yang seperti yang diharapkan? Bagaimana bila usaha sudah maksimal tapi kegagalan ternyata ada di depan mata? Mungkinkah kita akan menangis meraung-raung, meratap, menyesali diri atau sampai bunuh diri?! Jawabannya mungkin, bila kita melupakan satu cinta yang tertinggi, cinta yang teragung yaitu cinta kepada Allah SWT. Dengan mencintai Allah SWT kita yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berdoa dan ikhtiar maksimal. “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman,” (QS Az-zumar[39:52). Cinta kita dalam berbisnis hendaknya bukan karena silau akan gemerlap dunia. Ingin menjadi orang kaya yang sibuk pamer sana-sini, tapi karena ingin membangun perekonomian umat Islam dan mendapat ridho Allah SWT. Manusia berusaha, Allah SWT yang menentukan. Akan ada saat dimana malam berganti pagi, gelap berganti terang. Berbisnis itu ibadah. Bila segala sesuatu diniatkan karena Allah SWT semata maka akan diganti dengan pahala. Wallahu’alam bisshowab.
Saudaraku, berbisnislah dengan satu kata…….., CINTA!!


(Dikutip dari berbagai sumber)

08:43 Posted in Artikel Bisnis | Permalink | Comments (0) | Email this
12/22/2005
Bergerak

BERGERAK (Rhenald Kasali)

"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu.


"Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya.
Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.


Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun. Saya ulangi pesan saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ..."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..."
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja..ini kan gara-gara saudara2 Saya tidak mau mengurus saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....".
Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"

"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu,
sedangkan saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang
selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama
dari hari ke hari.....," katanya penuh semangat."
Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari.
Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah,
tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak,
perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak
terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri,
yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.


Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan
orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif,
bergerak, memulai, dan seterusnya.
Get Started.
Get into the game.
Get into the playing field, Now.
Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural,
tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia,
yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.


Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.
Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul,
yang membedakan antara winners dengan losers adalah
"Winners take action! they simply get up and do what has to be done!".
Selamat bergerak!

(Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali)

Metro Tanah Abang

...." Buat yang mau Action : Ditawarkan 10 kios gratis di Pusat Grosir Metro Tanah Abang, penawaran terbatas...."

Dezigh !! Seketika aku terpana melihat barisan kata-kata tersebut dalam sebuah milis komunitas TDA yang belakangan semakin akrab saja mengisi setiap detik demi detik berlalu disela-sela rutinitas pekerjaan. Komunitas inilah yang pelan namun pasti mengubah pola pikirku selama ini mengenai apa itu arti rejeki dan uang. Apa itu kebersamaan, sinergi dalam bisnis, sambil tak lupa memupuk semangat untuk saling membantu dan memberikan nilai lebih bagi orang lain. Setelah sebelumnya sempat gamang apa yang harus dilakukan setelah sempat 'terpuruk' dan stag sebentar karena gagal membangun cikal bakal imperium bisnis, alhamdulilah pada akhirnya kutemukan komunitas ini...

Saat itu juga langsung kuhubungi si pengirim email untuk info lebih lanjut. Ternyata yang ditawarkan adalah khusus kios sepatu. Wah ? Bukan saja pengalaman yang nol besar untuk ini, tapi juga modal, pasar, dsb aku sangat-sangat buta sama sekali dengan bisnis persepatuan ini. Ibarat masuk hutan belantara, kali ini gelap gulita, pekat...

Namun, the show must go on. Keputusan harus segera diambil karena sayang jika kesempatan ini dilewatkan begitu saja. Bismillah saja, sambil terus berusaha tetap berdoa semoga Allah berkenan memberikan jalan dan kemudahan kepada kami. Kemudian tak lama kusimak di milis, namaku sudah terdaftar sebagai orang yang pertama berminat untuk kios tersebut. Bismillah...

Sabtu pagi, aku, Istri plus Syahid anakku survey ke lokasi. Berboncengan bertiga, kami susuri jalanan Jakarta hingga sampai ke sebuah gedung putih di pojok jalan Wahid Hasyim Tanah Abang. Wah, ramai sekali kendaraan lalu lalang. Tanah Abang gitu lho...emang terkenal kan sebagai pusat grosir. Cari parkiran di dalam gedung, terus melaju hingga ke lantai tujuh...ck-ck..lumayan nih ngabisin bensin, batinku.

Lihat-lihat sekeliling, tempat parkir telah penuh dengan mobil dan motor. Wah, berarti pengunjungnya lumayan nih. Lalu kami cari tokonya Pak Hasan di lantai 4 yang sebelumnya sudah jualan produk jaket. Sudah ada peserta yang lain, hingga menjelang siang semua sudah berkumpul di tokonya Pak Hasan dan Mas Khairul. Hingga tibalah saatnya kami bertemu dengan Pak Haji Alay...

Subhanallah, melihat pembawaan beliau yang tenang namun tegas, kami sungguh takjub dibuatnya. Kios-kios di gedung ini juga sebagian miliknya dan beliau tak segan-segan mengundang orang lain untuk bekerjasama dengannya. Sakah satunya lewat kios-kios di lantai basement ini...Memang sih, saat ini kios-kios tersebut masih sepi dan banyak yang kosong. Namun Pak Haji meyakinkan, jika kita tidak menciptakan gula untuk mendatangkan semut-semut, ya pasti akan tetap seperti ini jadinya. ( sepi maksudnya ). Karenanya, Pak Haji mengajak kami semua untuk turut serta meramaikan kios-kios ini dan mulai berjualan didalamnya. Tidak usah takut dengan kondisi sepi, modal, koneksi ke supplier,dsb...insyaAllah ada banyak jalan untuk itu. Kemudian beliau menyebut beberapa nama dan tempat yang bisa dijadikan referensi plus tips-tips seputar dunia dagang. Kata beliau, dagang itu sangat erat kaitannya dengan feeling/intuisi...

Kurasa semua sepakat bahwa yang hadir saat itu langsung 'terbakar' dengan briefing singkat dari Pak Haji tersebut. Seseorang yang murah senyum, baik hati dan gemar berbagi...akhirnya, diadakanlah pengundian untuk menentukan masing-masing stand kios...aku kebagian stand kios nomor 4, tak apalah, yang penting kan bukan letaknya, namun kegigihan kita untuk jemput bola dari pengunjung-pengunjung yang ada. Lalu kami disarankan untuk segera berkoordinasi untuk menentukan kapan mau buka kios dan serah terima kunci. Untuk masalah teknis, insyaAllah 3 bulan pertama tidak dikenakan biaya apapun kecuali listrik. Karena sebagian besar masih terbilang baru di bisnis persepatuan, maka diputuskan untuk mengunjungi para produsen sepatu yang bisa menjadi supplier di kios.

Yap, saatnya segera take double action...doakan semoga impian untuk segera memiliki kios sendiri dapat menjadi kenyataan...:-). Amin. Ya ALLAH berkahilah usaha kami....

09:20 Posted in Curahan Hati | Permalink | Comments (0) | Email this
01/24/2006
Hujan Deras Semalam

Musim hujan begini...mestinya menjadi berkah. Karena apa ? tidak usah banyak berdebat, turunnya hujan justru merupakan rejeki dan berkah tak terkira dari Allah karena dampak ikutannya yang sangat besar. Bagaimana tidak, jika dengan turunnya hujan tanah-tanah menjadi subur karena dialiri lagi dengan air yang deras, tumbuhan dan bunga-bunga juga kerap merekah di musim penghujan ini karena selalu basah oleh air. Lebih jauh lagi, persediaan air tanah juga akan meningkat karena curah hujan yang tinggi setiap hari sehingga kita tidak khawatir jika tiba-tiba mesin air mati tidak mampu menyedot air karena persediaan air tanah sudah habis.

Tapi sekarang segala hal yang ideal itu telah berubah. Turunnya hujan seolah menjadi bencana bagi sementara orang. Banjir terjadi dimana-mana, di kota juga di desa. Hal ini tak lain karena alam sudah kehilangan keseimbangannya. Hutan-hutan yang dulunya rindang sekarang sudah habis digunduli hingga tak mampu lagi menyerap dan menahan lajunya air hujan. Begitu juga lahan-lahan hijau di perkotaan nyaris tak bersisa hingga menyebabkan turunnya hujan sebentar saja banjir sudah menghadang. Banyak lagi jika mau disebut satu per satu. Turunnya hujan semestinya menjadi berkah...tapi karena keserakahan manusia untuk terus mengeksploitasi alam, jadinya ya seperti ini. Alam murka, manusia sengsara.

Tak terkecuali dengan pengalamanku semalam. Sehabis hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur kota Jakarta hampir satu hari penuh, pohon-pohon bertumbangan dimana-mana. Alhasil jalan-jalan protokol menjadi macet luar biasa. Sungguh menyebalkan. Perjalanan pulang kantor menjadi sangat tidak nyaman. Memang sih, jika dibandingkan tahun-tahun lalu, menurutku kondisi Jakarta tahun ini tidak begitu parah. Tapi yang namanya antisipasi dan siaga tetap perlu dong.

Persoalan banjir dan macet memang klise dan klasik. Mungkin sama tuanya dengan perjalanan kota ini. Tapi ya itu tadi, turunnya hujan mestinya membawa berkah dan kesejukan, bukan malah melahirkan makian dan kekecewaan karena macet yang mengular.



07:35 Posted in Curahan Hati | Permalink | Comments (0) | Email this
12/19/2005
Senin Pagi...

Senin lagi...rasanya begitu cepat waktu ini. Kembali ke rutinitas, berangkat pagi, pulang jelang malam. Begitu seterusnya sampai weekend menjelang. Weekend kelar, senin lagi menghadang...kok menghadang sih ?

Yap, gimana nggak ? biasanya awal pekan begitu lalu lintas macetnya luar biasa. Seandainya keong bisa ditumpangin, mendingan naek keong deh...hehe. Tapi, pagi ini sedikit beda. Keluar rumah, hawa segar langsung menerpa maklum sudah dua hari terakhir hujan terus jadi ya lumayan adem cuacanya. Yah, asal gak hujan terus-terusan aja coz efek 'multiplier'nya itu yang unpredicted. Alias banjir dimana-mana...nah, kalo yang ini murni akibat ulah manusia. Gak tahu kenapa, musim hujan banjir terus jadi masalah. Padahal ini kan siklus tahunan gitu loh.

Sudahlah. Yang pasti cuaca pagi ini cukup adem. Dengan langkah mantap, aku menuju kantor...seperti biasa, kucoba 'menikmati' suasana perjalanan pagi itu. Kadang-kadang, untuk menghindari kejenuhan selama perjalanan, aku baca-baca buku sampai sedikit terlelap. hehe. Lumayan deh buat nyambung tidur semalam yang suka keganggu sama tangisan sang buah hati tercinta...

Alhamdulilah, kali ini si Metro yang menjadi 'jemputan' setia tak susah kudapat. Langsung duduk manis dibelakang, tak lama kemudian seorang penumpang duduk disebelahku dan terus...ngajak ngobrol !. Pikirku, hmh, gak biasanya nih ada orang ramah di bis, hari gini gitu loh. Biasanya tampangnya pada jutek semua, maklum deh di Metro...penumpang kadang diperlakukan kayak tape. Berjubel hingga deket pintu. Padahal, bahaya kan...

Pertama-tama si Bapak memperkenalkan diri. Dia seorang pensiunan PNS, punya anak dua, lagi ngurus SIM-nya yang hilang di Polsek Jaksel. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Batinku, wah, ini menyita waktu 'tidur' di bis nih. hehe. Yap, untuk mengurangi dampak bete selama di jalan yang macet dan crowded, aku sering berharap bisa tidur di bis. Tapi kali ini lain, si Bapak terus menceritakan pengalamannya selama jadi PNS, soal KKN sampai partai Golkar...

Aku masih tak acuh. Dia terus saja ngomong...hingga tanpa sadar, si Metro sudah hampir melewati Pertigaan Fatmawati- H. Nawi alias sudah dekat Dutamas-ITC !!! Kok gak nyadar ya ? Padahal tadi lumayan macet seperti biasa awal pekan...tapi ini kok lain ? Olala...ternyata sepanjang perjalanan tadi si Bapak terus saja ngobrol dan aku ikut larut dalam pembicaraannya. Alhasil, kemacetan Fatmawati pagi itu tak begitu kurasakan...Kalo tiap hari kayak gini, asyik juga ya ? hehe. Tapi, bisa-bisa mulut jadi garing karena ngobrol terus sepanjang jalan...:-)

04:35 Posted in Curahan Hati | Permalink | Comments (0) | Email this
12/14/2005
Cerita Seru dari Makassar

Makassar...here we go !!! Akhirnya...tiba juga aku di kota ini. Kotanya seru, jalanannya lebar-lebar, warganya cukup ramah walau aksen ngomongnya cukup keras dan cepat. Aku kesini dalam rangka tugas juga untuk acara road show launching buku Perspektif Baru. Yap, setelah menuai sukses di dua kota, Jakarta dan Yogya, kali ini Makassar yang kena giliran. Orang-orangnya terkenal kritis, lugas, dan spontan. Pasti seru ngadain acara di kota ini.

Dugaanku tidak meleset. Sekitar jam 5 sore tanggal 10 Des 05, pengunjung mulai memadati area launching buku di Gramedia Mall Ratu Indah Makassar. Acara pertama, Wimar Witoelar selaku host acara ini menjelaskan sekilas sejarah dan perjalanan Perspektif Baru yang dilanjutkan dengan penjelasan website Perspektif baru dari Satya. Sedetik kemudian baru sesi tanya jawab. Tampaknya sesi inilah yang ditunggu-tunggu dari pengunjung. Beragam pertanyaan dari mulai yang sederhana hingga kritis 'berhamburan' keluar. Dari mulai pengalaman Wimar menjadi jubir jaman Gusdur, soal politik dan demokrasi, masalah pengelolaan negara yang tidak beres-beres hingga tanggapan Wimar terhadap ICMI. Pokoknya seru deh, sampai-sampai tim Perspektif agak kewalahan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan door prize coz semua pertanyaan yang masuk bagus-bagus. Tapi, memang Wimar yang pakar komunikasi, semua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan diplomatis khas Wimar.

Acara berikut tak kalah serunya. Yaitu foto session with Wimar. Wah, jadi terharu juga nih. Ternyata, Wimar masih menyisakan fans fanatiknya di masa lalu. Terbukti, dengan antusiasme pengunjung untuk berfoto bareng Wimar. ( Tapi gak tahu juga deh, apa karena mereka orang daerah yang rindu kehadiran orang 'pusat' yang bisa menyuarakan aspirasi mereka ? Entahlah ). Yang jelas, aku dan tim senang banget acara sore itu sukses. Sip deh.

Selesai acara, kami rehat sebentar untuk kemudian makan malam dengan Ibu Triyatni di Istana Karang Laut. Ini lagi sessi yang seru...kali ini makanannya itu lho gak nahan. Kalo gak ingat-ingat aku gak ada riwayat alergi, udah kuhabisin deh itu lobster...hehe. Tapi gak papa. Menu lain oke juga kok. Pokoknya puas banget malam itu. Ditambah dengan alunan merdu dari penyanyi 'biasa' yang luar biasa...wow, seru banget.

Tibalah acara 'bebas'. Yap, kali ini betul-betul bebas. Aku dan tim Makassar, Susy,Maro, Astrid, mas Neil ( org gramedia ), mas Satya, mbak Sari, memutuskan untuk nonton The Chronicle of Narnia yang baru diputar di Jakarta. Maro sih yang minta abis dia penasaran banget gak kebagian tiket di PI...Ya udah, ikut aja daripada di hotel gitu lho...hehe.

Kirain emang bener-bener bagus. Coz pas ngelihat intronya, boleh juga nih. Adegan perang-perangan...wah, pasti seru kelanjutannya. Gak taunya...walah, walah, ini cuma film khayalan di negeri dongeng yang gak ketahuan ujung ceritanya. Gak nyambung gitu. So what gitu lho ? aku dah duduk manis di bioskop, ya ikutin aja ceritanya walau dengan mata yang sudah 5 watt. Hehe. Untung aja, animasi komputer dan efek gambarnya cukup oke, jadi ya lumayanlah untuk menghibur diri. :-)

Selesai nonton sekitar jam 1 pagi dinihari. Anak-anak pada mutusin naek becak aja karena murah. Ya gak papalah sekali-sekali naek becak di kota orang. Lagian, jarang-jarang kan coz Jakarta becak udah gak ada. Aku dan Maro satu becak. Astrid dan Susy di becak satunya. Sementara mas Satya dan mbak sari sudah melaju juga dengan becaknya jauh mendahului kami berempat. Kami masih sempat tuh foto-fotoan di atas becak...ketawa-ketiwi, tengok kanan-kiri, menikmati perjalanan dan dinginnya malam kota Makassar. Wah, pokoknya seru deh. Hingga ketika sampai di kelokan jalan...swing-swing...brrreeer...brreeeerr. Bunyi apaan tuh ? loh, kok banyak orang berkerumun kayak ada konser gitu ? olala...ternyata disitu sedang berlangsung Balapan Liar. Tapi karena sudah terlanjur, becak kami sudah masuk kedalam track Balapan...jadilah sepanjang jalan di tepi pantai Losari kami disoraki oleh warga yang nonton Balapan liar itu. Becak kami terus melaju dengan cepat seolah tak mau kalah dengan para 'pembalap' liar itu yang kebanyakan ABG. Ditengah keriuhan suasana karena ada becak berpacu balap dengan motor di arena trek-trekan liar itu....tiba-tiba....

GUBBRAKKKK !!! Kurasakan ada benda keras menghantam kepala. Becakku tertabrak motor di arena balap !. Dalam keadaan setengah sadar, kucoba berlari ke pinggir. Gak peduli dengan kerumunan orang. Duh, sakit sekali pergelangan tangan. Tapi kucoba bangkit dan melangkah. Kuraba kantong belakang. Oh, ternyata dompet dan HP masih aman tersimpan di celana. Lalu kulihat Susy lalu Astrid berlari-lari berusaha mencari tahu keberadaan kami berdua. Untunglah tak lama kemudian Maro ditemukan dalam keadaan selamat. Susy-Astrid langsung sibuk kasak-kusuk cari UGD dan angkot sementara kami berdua malah sibuk cari...SENDAL !!!. hehe. bukan apa-apa, setelah full tersadar, kami terpikir kok ada yang kurang ya ? oh, ternyata sandal kesayangan...beruntung, Maro akhirnya menemukan sendalnya, sementara aku mesti rela berjalan-jalan tertatih dengan satu sendal di sebelah kiri. Kadang lucu juga, ditengah suasana panik kayak gitu, sempet-sempetnya mikirin hal remeh kayak gitu....hihihi. Kami juga kan manusia...hehe.

Dalam keadaan panik, akhirnya kami berhasil juga menemukan UGD terdekat. Hmm...sebenarnya aku agak males ke UGD. Bukannya meremehkan dengan kondisi luka-luka di tangan dan kepala, tapi membayangkan pelayanan di UGD itu lho...belum lagi, pemandangan korban-korban kecelakaan di UGD...hiks. Cukup bikin bergidik. Alhamdulilah, sebenarnya luka di tangan gak parah-parah amat, hanya benturan di kepala yang mesti diperiksa lebih lanjut. begitu juga Maro, lukanya ditangan tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu pemeriksaan lanjutan besok-besok. Kupikir, cukuplah dibaluri Betadine untuk pertolongan pertama. Hiks...benar saja. Pas sampai gerbang UGD, kamar penuh pasien. Pintu kamar UGD sedikit terbuka dan kusaksikan...ada 2 orang korban kecelakaan -- entah karena Balapan itu atau bukan -- sedang berjuang menahan sakit...salah satu kelingkingnya putus lalu sekujur tubuhnya berlumuran darah...betul-betul mengerikan. Alhasil, masuk ke kamar, aku hanya minta dibaluri Betadine di sekujur tangan setelah itu...cabut !!! Daripada kebayang-bayang korban yang lagi 'sekarat'...mendingan keluar duluan deh. Idem ditto dengan Maro, dia juga gak lama-lama di dalam kamar UGD. Hari gini lihat lumuran darah....wih, gak janji deh.

Kelar 'pemeriksaan' di UGD, kami berempat ke Apotik terdekat untuk membeli obat-obatan yang diperlukan. Setelah itu, balik ke hotel. Disana, aku dan Maro jadi 'pasien' dadakan Susy dan Astrid. Hmmm...gak nyangka juga ya, ternyata mereka berdua cukup telaten menangani luka...hehe. Usut punya usut, ternyata Susy pernah aktif di Palang Merah. hehe..pantes aja. Coba dari tadi kita balik ke hotel...pelayanan lebih memuaskan. :-)

Akhirnya...'petualangan' kami berakhir malam itu. Setelah bersih-bersih sebentar trus aku masih ngobrol ngalor ngidul dengan Maro. Apalagi kalo bukan membahas kejadian barusan. Pembicaraan fokus ke ' misteri sendal yang hilang'. hehe...kayak gak ikhlas gitu. Bukan apa-apa, soalnya itu kan sendal hotel dan menjadi satu-satunya sendal yang kupake selama di Makassar. Jadi penasaran banget...sampe kubilang ke Maro, " besok kita harus jelajahi lagi sepanjang pantai Losari untuk mencari sendal...!!! ". Maro bilang, " Siapa takut ??? " hehe. Dasar manusia, materi terus dipikirin. Eits, tapi kami sangat bersyukur lho selamat dari kejadian itu. It's really-really miracle. Kubilang, kejadian tadi benar-benar diluar dugaan dan memang ada kekuasaan diluar kemampuan manusia. Yap, benar sekali. Allah Maha Berkehendak, Maha Segalanya. Gampang saja bagi-Nya untuk mencabut nyawaku pas kejadian tadi...karena secara logika awam, benturan antara becak dan motor kami cukup keras. Kebayang kan, atap becak sampe remuk dan motor itu terpelanting beberapa meter...gak tau deh gimana nasib abang becak dan si 'pembalap liar' itu. Kutambahkan ke Maro, sudahlah kita petik hikmahnya saja. Ini peringatan supaya masing-masing kita lebih mendekat kepada-Nya. Subhanallah. Akhirnya kami pun terlelap....

Keesokan paginya, aku terjaga. Duh, serasa remuk badan ini. Tapi, aku harus bangun karena sore ini kami semua harus pergi meninggalkan Makassar. Jadilah dengan kondisi seadanya, aku mandi, beres-beres, trus keluar kamar menghirup udara segar. Oh, indahnya pagi di Makassar...hingga kemudian pandanganku tertubruk ke sebuah benda dibawah kursi kamar...SENDAL !!!. Kucoba mendekat lalu kucocokkan dengan sebelah sandal yang kubawa semalam...lho, cocok ???. Ya Allah, keinginanku terkabul...sebelah sendal telah kembali. Tapi siapa ya orangnya yang 'menyembunyikan' sebelah sendal di bawah meja ? Susy ? gak mungkin, ngapain juga dia pagi-pagi buta ngubek-ngubek tepi pantai Losari hanya demi sebuah sendal. Atau tamu hotel yang ketinggalan sendal ? atau petugas hotel yang kelupaan bersihin kamar ? wallahu'alam deh...sementara masih jadi teka-teki di hari itu sampai akhirnya ternyata si Astrid yang punya 'ulah'. hehe...sebelumnya, dia dan Susy yang menempati kamar itu, terus ada sendal sebelah sengaja ditinggalkan dibawah kursi kamar....hiks, gak jadi cerita misteri deh. :-)

Hari Minggu yang cerah itu, lebih banyak waktu aku habiskan di hotel. Kebetulan ada jadwal wawancara PB dengan salah satu aktivis LSM disini dengan host Faisol Riza. Yap, awak tim tinggal kami berempat plus Mas Riza. Akhirnya, tepat jam 2 siang, kami check out dan langsung cari tempat makan buat lunch. Oya, pagi itu tim PB kedatangan tamu yang lama dinanti yaitu Sena, aktivis merangkap jurnalis juga. Orangnya lumayan asyik diajak ngobrol. Tak lama, kami dijemput Mas Neil untuk 'keliling' kota sebentar sambil cari oleh-oleh. Makan siang di Mie Titi...trus putar balik nganter Sena, kemudian baru cari toko yang pas deh buat beli oleh-oleh.

Tak lama ngubek-ngubek isi toko...akhirnya waktu pulalah yang memisahkan. Sekitar jam 3 sore, aku, Susy, Astrid, Maro plus Mas Riza dan Mas Neil harus meluncur ke Bandara lewat jalan tol yang cuma semenit...lancar banget. Ternyata pesawat sudah menunggu. Hanya satu doaku : "...Ya Allah selamatkanlah perjalanan pulang kami...". Makassar oh Makassar...aku pasti akan kembali. Jakarta...tunggu aku di kotamu. :-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar